Jumat, Agustus 10, 2007

Global Warming

Global Warming alias pemanasan global.

Akhir - akhir ini lagi santer isu global warming.
Apalagi setelah membaca koran Jawa Pos semalam. Woww sangat mengerikan.
Dimana suhu bumi pada bulan Januari s/d April mencapai rekor tertinggi dimana terjadi kenaikan temperatur muka bumi lebih dari 1 derajat celcius sejak dilakukan observasi global tahun 1880. . Dan dimana-mana terjadi bencana mulai banjir hingga badai.

Disebutkan di harian bahwa ini terjadi bencana di hampir semua benua.
Di ASIA: terjadi banjir bandang di Asia Selatan
curah hujan tidak normal di Tiongkok yg mengakibatkan banjir dan tanah longsor
Di EROPA: badai panas melanda Eropa Timur, Eropa Tenggara dan Rusia
hujan serta banjir di Eropa Barat
curah hujan tidak normal di Eropa Utara
Di AFRIKA: salju pertama turun di Afrika Selatan
banjir di Mozambique
sungai nil meluap
Di AMERIKA: salju tak biasa di Amerika Selatan
banjir dahsyat di Uruguay
Banyak pulau yg hilang misalnya di Kepulauan Malvinas.
DI Indonesiapun terjadi bencana dimana dalam kurun waktu 5 ahun terakhir di Jawa terjadi banjir, musim kemarau yg lebih panjang dan musin hujan yg semakin pendek namun dengan intensitas tinggi.
Saljupun mulai mencair.

Konon bencana ini terjadi karena peningkatan emisi gas beracun atau kadang disebut juga emisi gas rumah kaca, antara lain karbondioksida (CO2), metana (CH4), dinitroksida (N2O) yang naik ke permukaan atmosfer. Belum lagi sekarang ini lapisan ozon semakin menipis bahkan sudah ada yang berlubang. Akibatnya sinar ultraviolet dengan santainya masuk ke bumi kita tercinta. Bumi semakin panas dan kitapun semakin tak terlindungi.
Kanker kulit mulai mengintip apalagi buat kita-kita yang suka berada di luar ruangan dan tidak memakai cream pelindung tabir surya.
Jadi perlu berhati-hati kalau mau berjemur ria dan mencoklatkan kulit.

Dengan bencana ini, terutama di negara kita tercinta ini, akankah kita tinggal diam dan cuma menjadi penonton akan terjadinya bencana global ini?
Ataukah kita akan cuek saja dan berpikir ah biarlah dipikirkan oleh pemerintah, orang2 di negara maju, para ilmuwan dan orang2 yg peduli. Kita ikut saja. Toh paling cuma 1 yg tidak peduli.
Duhaiiii... jika setengah saja penduduk dunia yang berpikiran seperti itu, niscaya anak cucu kita akan menuai bencana yg lebih dahsyat.
Sekarang ini saja, sudah banyak terjadi bencana, banjir di Sulawesi dan kekeringan di pulau lain. Akan tetap diamkah kita???
Pilihan tetap ditangan kita sendiri.
Tidak ada pemaksaan bagi individu untuk itu namun alangkah indahnya dan kompaknya apabila seluruh penduduk dunia termasuk kita-kita ini untuk ikut peduli demi masa depan anak cucu kita.

Apabila kita ikut peduli, mari kita bersama-sama melakukan perubahan yang dapat kita lakukan sehari-hari. Sulit??? Awalnya sulit namun dengan tekad dan kemauan keras, kita dapat melakukannya.
Yang dapat kita lakukan dalam kehidupan kita sehari-hari misalnya:
  1. Dikantor:
  • batasi penggunaan kertas. Dengan menggunakan dua sisi kertas. Dengan menghemat kertas berarti kita menghemat pohon yang ditebang untuk bahan baku pembuatan kertas. Ini berarti kita membantu mengurangi CO2 di muka bumi.
  • memakai pakaian yang sesuai dengan iklim. Misalnya musim panas tidak perlu memakai jas lengkap dan dasi. Yang penting rapi dan cukup formal. Jas dan dasi digunakan seperlunya saja.
  • batasi pemakaian AC dan pasang pada suhu yg cukup sejuk.
  • Hindari screen saver karena screen saver memakan banyak energi dan mengeluarkan emisi CO2. Lebih baik matikan saja monitor.
2. Kendaraan:
  • menghemat pemakaian BBM. BBM ini berasal dari minyak bumi dan merupakan sumber utama CO2. Kini, mulai dikembangan BBM dengan bahan dasar dari tumbuhan misalnya biodisel dan bioetanol dimana bahan ini menghasilkan emisi CO2 yg lebih minim. Coba untu mengganti dengan biodisel.
  • Periksa tekanan ban karena tekanan ban yg kurang, memerlukan BBM yg lebih banyak. Kok bisa??? Karena tekanan ban yg kurang anginnya menyebabkan bertambahnya tarikan mesin karena torsi putar harus lebih besar untuk menggerakkan beban yg sama.
  • Atau nebeng teman/rekan untuk berangkat dan pulang bersama-sama. Selain hemat BBM juga hemat saku. Urunan untuk beli BBM dan mengurangi kemacetan. Lebih baik lagi jika gunakan kendaraan umum
  • Bersepeda yookkk.... selain sehat (krn unsur olah raga) juga mengurangi pemakaian BBM, mengurang macet dan polusi
3. Dirumah:
  • TV, DVD player, Hi Fi dll, lebih baik di matikan jika tidak digunakan dalam waktu yang cukup lama dan jangan dalam mode standby karena stanby mode memerlukan daya.
  • Ganti bola lampu pijar dengan lampu neon yang memiliki daya listrik lebih hemat. Walaupun lebih mahal namun lebih awet dan mengurangi emisi CO2. (Warna kuning juga ada kok yg neon)
  • Ikuti anjuran pemerintah untuk mematikan lampu yang tidak diperlukan antara jam 17.00 s/d 22.00 minimal 2 buah lampu.
  • Buka jendela rumah. Gunakan AC seperlunya dan yg hemat listrik. Pasang pada suhu yg sejuk.
  • Kulkas dan freezer pasang pada suhu yang diperlukan dan jangan lupa di servis
  • Saat udara cerah, batasi penggunaan pengering pada mesin cuci. Gunakan pengering alami yaitu sinar matahari.
  • Batasi pembelian baju karena setiap baju yang dijual memerlukan serat baik alami maupun sintetis. Selain itu setiap helai baju yang sampai ditangan kita memerlukan sejumlah BBM untuk mendistribusikannya.
  • Jika memiliki tanah, tanami dengan rumpun bambu karena bambu ternyata mampu menyerap CO2 4 kali lebih banyak dari tanaman biasa. Tanaman bambu bagus juga jika ditanam merapat di dinding rumah. Tampak lebih asri.
  • Hindari pemakaian kantong plastik karena plastik memakan waktu 1000 tahun untk diuraikan dan melepaskan gas rumah kaca yg membahayakan.
4. Makanan:
  • Go Organik. Beli makanan organik. Mahal... Memang tapi lebih sehat karena tidak mengandung pestisida. Selain itu, pemakaian pupuk non organik yang mengandung nitrogen dapat berubah menjadi N20 yang menimbulkan efek emisi efek rumah kaca 320 kali lebih besar dari CO2.
  • Beli produk lokal karena bisa memotong jalur distribusi yang jauh. Hemat BBM dan hemat fulus. Bila perlu tanam sendiri. lebih sehat.
  • Kurangi konsumsi daging merah karena ternak sapi ternyata menyumbang 18% efek gas rumah kaca. Wowww... Konon tiap harinya mengeluarkan 60 liter CH4 ketika rumput berfermentasi dalam pencernaannya.
Yang terpenting adalah hidup efisien. Konsumsi apapun lebih sedikit. Gunakan bahan yang tidak membahayakan, hemat pemakaian energi dan BBM, bila perlu saling meminjam barang antar tetangga. Kurangi jalan-jalan keliling kota tanpa tujuan. Lebih banyak bergaul dengan tetangga dan berkebun bersama-sama.

So, pilihan ada ditangan kita sendiri. Mari kita bersama-sama berpikir demi masa depan anak cucu kita kelak.
Mari kita bahu membahu dan bersama-sama bergerak untuk mengurangi pemanasan global.


Diambil dari berbagai sumber.

Surabaya, 10 Agustus 2007

Tidak ada komentar: