Minggu, Agustus 12, 2007

Dampak Global warming

Duhh... global warming lagi..
Lagi-lagi global warming.

Hampir tiap hari berita itu terus muncul di berbagai harian di Indonesia.
Bosan??? NO
Menambah kekuatiran??? YUP

Hari ini aku membaca lagi tentang sinyal global warming di harian Kompas. Diharian ini diceritakan tentang dampak dari perubahan iklim sebagai akibat dari pemasanan global yang terus berlangsung selama beberapa tahun ini.
Bencana terus berkelanjutan mulai dari banjir, tanah longsor, kekeringan, gelombang panas dan kebakaran hutan. Ribuan korban jiwa telah diambil dan tak terhitung berapa total kerugian yang ditimbalkannya.
Semuanya ini terjadi sebagai akibat efek gas rumah kaca dimana efek ini akan mengubah pola curah hujan,meningkatkan kekuatan badai, resiko kekeringan, resiko banjir dan kelangkaan air bersih. Dampak selanjutnya adalah kegagalan panen dan pada akhirnya terimbas pada bencana kelaparan.

Asia merupakan kawasan yang paling menderita akibat rentetan bencana ini. Kawasan Asia Selatan yaitu India, Nepal dan Bangladesh adalah kawasan yang terparah yang terkena banjir. Banyak pengungsi (sekitar 25 juta jiwa) yang menderita kelaparan, kekurangan air minum, dan rentan terhadap penyakit.
Sementara ini di China terkena banjir dan kekeringan sekaligus di wilayah yang berbeda.
Di Vietnam yg merupakan lumbung padi Asia Tenggara juga terkena banjir.
Indonesia pun terkena dampak ini. Kenaikan suhu dan banjir juga melanda negara kita tercinta ini.

Kini hampir semua negara diberbagai belahan dunia mengalami dampak dari bencana ini mulai dari negara maju hingga negara miskin.
Dan merupakan tanggung jawab dari pemerintah masing2 untuk menyadarkan rakyatnya dan membuat program bersama untuk mengurangi efek gas rumah kaca.

Aku kemudian berpikir dan mulai berpikir dan berpiikr dan timbullah keinginan untuk menulis hal ini dan mencoba mengetuk hati beberapa orang teman.

Bisakah kita membayangkan puluhan tahun kedepan (mungkin kita sudah tak ada lagi) anak cucu kita tidak bisa melihat hijaunya hutan, kuningnya padi yang hampir dipanen, ranumnya buah yang matang dipohon bahkan sejuknya air pegunungan?
Tegakah kita melihat mereka dalam kekeringan dan kekurangan air bersih bahkan kelaparan??

Mari kita renungkan apa yang akan terjadi di beberpa tahun yg akan datang bila efek gas rumah kaca ini terus berlangsung dan semakin parah.

Mari kita bayangkan, daerah Asia (terutama Vietnam) yang merupakan lumbung padi Asia Tenggara mengalami gagal panen. Tidak ada beras yg bisa diekspor. Sementara di negara kita masih mengandalkan impor beras. Apa yg akan terjadi?? Harga beras jadi naik dan rakyat miskin tidak dapat membeli beras. Mengandalkan subsidi dan operasi pasar?
Sampai kapan??? dan berapa lama???

Begitu pula dengan kelangkaan air bersih. Di banyak daerah di negara kita juga banyak yg mengalami kekeringan. Resapan air berkurang akibat pembangunan yang tidak terkendali. Tidak ada pengawasan yg terpadu dalam pembangunan. Banyak daerah resapan air berubah menjadi bangunan. Sawah-sawah berubah jadi daerah industri, perumahan.
HUtan digunduli tanpa upaya di tanami kembali dengan baik.
Kebakaran hutan, penebangan pohon, perubahan tata kota, berkurangnya daerah resapan air, semuanya menimbulkan banjir. Yang pada akhirnya air tanah menjadi berkurang dan terjadilah kekeringan. Air bersih semakin langka dan harga air semakin mahal.

Inikah yang akan kita wariskan pada anak cucu kita kelak??
Bisa saja kita mengatakan, yang penting sekarang cari uang sebanyak-banyaknya untuk anak cucu kita. Sehingga masa depan depan terjamin karena memiliki uang untuk membeli segalanya.
Namun itukah jalannya??? NO
Sekali lagi NO.
karena jika makin banyak rakyat yang kelaparan dan kekurangan air, maka dampak sosial akan semakin besar. Dimana terdapat perbedaan yang sangat besar antara yg miskin dengan yg kaya. Jika terjadi demikian maka kejahatan akan semakin marak karena orang butuk makan dan minum.

Bisakah kita diam saja dan tidak peduli pada lingkungan disekitar kita?
Bisakah kita diam saja jika dengan uang yg akan diwariskan pada anak cucu kita ternyata dapat menimbulkan ketidak nyamanan maupun ketidak amanan?
Semuanya tergantung pada hati nurani kita.
Mari kita bantu pemerintah untuk mengurangi efek gas rumah kaca dalam kehidupan kita sehari-hari.


Surabaya, 12 agustus 2007








Tidak ada komentar: