Beberapa hari yang lalu saya berbincang dengan seorg teman tentang kata ini "KEPERCAYAAN".
Menarik sekali pepatah yg dikatakannya tapi sayangnya saya tidak bisa mengingat dengan baik tapi kira2 seperti ini: emas itu berharga , teman/sahabat sangat berharga tapi kepercayaan paling berharga.
Saya merenungkan kata2 itu dan memang benar adanya.
Emas adalah benda yang berharga namun apabila kita kehilangan emas, kita masih bisa mencari dan membelinya.
Teman/sahabat lebih berharga dari pada emas dan nilainya tidak dapat dihitung, namun apabila kita kehilangan seorang teman/sahabat yang sangat kita kasihi akan sangat mendukakan kita. Tapi lambat laun kita dapat melupakannya dan mencari penggantinya.
KEPERCAYAAN adalah sesuatu yg sifatnya sangat abstrak dan tidak dapat dilihat bentuknya. Tidak dapat disentuh dan tidak dapat dirasakan. Namun kepercayaan sangat penting artinya / nilainya dalam kehidupan kita. Jika suatu saat kita kehilangan kepercayaan pada seseorang atau orang kehilangan kepercayaan pada kita, akan sangat sulit dilupakan dan dampaknya lebih menyakitkan daripada kehilangan seorang sahabat. Kita bahkan tidak akan bisa memperoleh / membangun kembali kepercayaan itu.
Kehilangan kepercayaan sangat menggugah hati saya dan sangat saya pikirkan akhi-akhir ini. Banyak hal yg luput dari pengamatan saya.
Namun saat aku membicarakannya kembali dengan seorang teman dan mulai merenungkan hal ini, beberapa kejadian langsung menimbulkan ingatan yg sangat kuat. Walaupun saya berusaha melupakannya tapi sangat dan masih segar dalam ingatan saya betapa menyedihkannya jika org kita percayai selama ini ternyata mengkhianati kita dan menyalah artikan kepercayaan yg kita berikan.
Karena utk kepentingan tertentu atau oknum tertentu, teman baik kita berbalik mengkhianati kita.
Saat aku mengetahui bahwa teman saya yang saya percayai selamai ini ternyata berbalik mengkhianati saya, saya sempat sangat marah dan kecewa tapi saya berusaha memahami knapa dia melakukan hal itu.
Tapi saat jawaban atas pemahaman itu dipertanyakan dan di ungkap, timbul kembali rasa sakit dan kepedihan.
Setelah fase itu terlewati timbullah ketidak inginan utk bertemu, bersama bahkan bicarapun malas. Rasa kecewa atas pengkhianatan telah merusak suatu hubungan yang telah akrab terjalin. Rasa sakit dan kecewa bercampur menjadi satu.
Menilik rasa itu, aku berusaha utk sedapat mungkin tidak merusak kepercayaan yg diberikan dan belajar untuk lebih baik dan menjaga kepercayaan yang selama ini telah dipercayakan kepadaku.
Menjaga kepercayaan sangatlah berat apalagi jika dipercaya untuk sesuatu yang sangat rahasia dan krusial.
Senin, November 19, 2007
KEGAGALAN
Semalam saya membaca sebuah buku tentang melupakan masa lalu. Didalam buku tersebut ada kata-kata yg sangat berkesan bagi saya yaitu dari John Maxwell yg berbicara tentang KEGAGALAN.
John Maxwell berkata:
Kegagalan tidak berarti bahwa saya sendiri adalah sebuah kegagalan; itu hanya berarti bahwa saya belum berhasil.
Kegagalan tidak berarti bahwa saya belum mencapai apapun; itu hanya berarti bahwa saya telah belajar tentang sesuatu.
Kegagalan tidak berarti bahwa saya telah dibodohi; itu hanya berarti bahwa saya telah berani mengambil resiko.
Kegagalan tidak berarti bahwa saya lebih rendah; itu hanya berarti bahwa saya tidak sempurna.
Kegagalan tidak berarti bahwa saya telah memboroskan waktu saya; itu hanya berarti bahwa saya memiliki sebuah alasan utk memulai lagi.
Kegagalan tidak berarti bahwa saya harus menyerah, itu hanya berarti bahwa saya harus berusaha lebih keras.
Kegagalan tidak berarti bahwa saya tidak akan pernah mampu meraihnya; itu hanya berarti bahwa saya perlu lebih banyak berlatih.
Kegagalan tidak berarti bahwa Allah telah menelantarkan saya; itu hanya berarti bahwa Dia memiliki rencana yg lebih baik.
RENUNGAN:
Dalam kegagalan, ada suatu hikmah yang dapat kita petik. Terkadang dalam kegagalan kita terpuruk dan tidak dapat melupakannya namun kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Dari kegagalan kita dapat belajar banyak. Dan kegagalan merupakan guru yang sangat berharga dan tiada bandingannya. Jangan takut menjadi gagal.
John Maxwell berkata:
Kegagalan tidak berarti bahwa saya sendiri adalah sebuah kegagalan; itu hanya berarti bahwa saya belum berhasil.
Kegagalan tidak berarti bahwa saya belum mencapai apapun; itu hanya berarti bahwa saya telah belajar tentang sesuatu.
Kegagalan tidak berarti bahwa saya telah dibodohi; itu hanya berarti bahwa saya telah berani mengambil resiko.
Kegagalan tidak berarti bahwa saya lebih rendah; itu hanya berarti bahwa saya tidak sempurna.
Kegagalan tidak berarti bahwa saya telah memboroskan waktu saya; itu hanya berarti bahwa saya memiliki sebuah alasan utk memulai lagi.
Kegagalan tidak berarti bahwa saya harus menyerah, itu hanya berarti bahwa saya harus berusaha lebih keras.
Kegagalan tidak berarti bahwa saya tidak akan pernah mampu meraihnya; itu hanya berarti bahwa saya perlu lebih banyak berlatih.
Kegagalan tidak berarti bahwa Allah telah menelantarkan saya; itu hanya berarti bahwa Dia memiliki rencana yg lebih baik.
RENUNGAN:
Dalam kegagalan, ada suatu hikmah yang dapat kita petik. Terkadang dalam kegagalan kita terpuruk dan tidak dapat melupakannya namun kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Dari kegagalan kita dapat belajar banyak. Dan kegagalan merupakan guru yang sangat berharga dan tiada bandingannya. Jangan takut menjadi gagal.
Selasa, November 13, 2007
Korupsi
Bulan lalu sempat kutuliskan uneg-uneg ini tapi belum sempat di edit. So, hari ini baru bisa dilakukan.
Hari ini aku membaca iklan KPK di Kompas. Judulnya: korupsi membunuh bangsa. "Anda merebut makanannya". Iklan yang sangat menggelitik dan bermakna menggugah agar tidak korupsi. Dikatakan bahwa korupsi tidak hanya mencuri uang negara saja tetapi mencuri sesuap nasi dari orang lemah. Karena dana yang dikorupsi mempengaruhi proyek2 yg diperuntukkan bagi kesejahteraan orang miskin. Iklan itu juga mengajak kita semua untuk mengutuk koruptor dan melaporkannya.Kira2 itu isi iklan tersebut.
Aku tergugah dengan ajakan untuk mengutuk dan melaporkan para koruptor.Apakah cukup hanya itu? Setelah dilaporkan, apa yang akan dilakukan oleh aparat pemerintah? Apakah bisa ditindak dengan tegas (dalam arti mendapat hukuman setimpal)? Apakah bisa bersikap adil terhadap siapapun pelakunya? Apakah tidak ada perlindungan khusus? Apakah tidak ada unsur politik (dalam arti menjatuhkan seseorang di partai tertentu)? Bagaimana dengan para koruptor yang masih melenggang bebas? Bagaimana dengan mereka yang telah ditangkap tapi kemudian dilepaskan karena "kurang bukti" atau surat sakti? Dan bagaimana -bagaimana lainnya...
Dalam pikiran saya dan dengan pengetahuan saya tentang hukum yang sangat minim, saya mulai bertanya-tanya, sejauh mana hukum kita beserta para aparatnya dapat bertindak? Apakah mereka dpt dikatakan bersih dan tidak dapat disuap?
Apa sih sebenarnya korupsi itu?
Apakah hanya mengambil uang negara?
Bagaimana halnya dengan suap menyuap dengan segala bentuknya?
Apakah itu termasuk korupsi? Bagaimana halnya dengan korupsi waktu? Apakah tidak sama? Bagaimana pula dengan menyalah gunakan wewenang?
Bagaimana dengan sikap para anggota dewan kita yang utk menggolkan suatu proyek butuh uang sekian milyar?
Bagaimana dengan study banding di dalam maupun luar negeri yang memakan dana banyak? Padahal hasilnyapun belum ada atau bahkan tidak pernah direalisasikan atau belum tentu bisa diterapkan?
Yang sangat penting sebenarnya adalah kesadaran dari kita sendiri untuk melakukannya. Apapun bentuknya, yang namanya korupsi baik waktu, uang maupun penyalahgunaan wewenang adalah hal2 yang tidak baik.
Mari kita mulai dari diri sendiri.Karena selama diri sendiri tidak sadar, akan sulit utk memberantas korupsi.
Mari kita syukuri apapun yang kita terima saat ini dan jika ingin lebih lagi mari kerja lebih keras.
Mari kita benahi etos kerja kita dan cara kita pandang kita terhadap kesuksesan.
Sukses tidak diukur dari materi saja tapi dari segala hal.
Dengan merubah itu, saya yakin, korupsi akan hilang dengan mudah.
Cara yang sangat mudah adalah: apakah kita ingin mendapat malu? Apakah kita ingin anak cucu kita menanggung malu seumur hidup atas hal2 yg tidak dilakukannya? Apakah kita rela merampas nasi org miskin?Jika kita adalah mereka, bagaimana perasaan kita?
Sby 20 okt 2007
Hari ini aku membaca iklan KPK di Kompas. Judulnya: korupsi membunuh bangsa. "Anda merebut makanannya". Iklan yang sangat menggelitik dan bermakna menggugah agar tidak korupsi. Dikatakan bahwa korupsi tidak hanya mencuri uang negara saja tetapi mencuri sesuap nasi dari orang lemah. Karena dana yang dikorupsi mempengaruhi proyek2 yg diperuntukkan bagi kesejahteraan orang miskin. Iklan itu juga mengajak kita semua untuk mengutuk koruptor dan melaporkannya.Kira2 itu isi iklan tersebut.
Aku tergugah dengan ajakan untuk mengutuk dan melaporkan para koruptor.Apakah cukup hanya itu? Setelah dilaporkan, apa yang akan dilakukan oleh aparat pemerintah? Apakah bisa ditindak dengan tegas (dalam arti mendapat hukuman setimpal)? Apakah bisa bersikap adil terhadap siapapun pelakunya? Apakah tidak ada perlindungan khusus? Apakah tidak ada unsur politik (dalam arti menjatuhkan seseorang di partai tertentu)? Bagaimana dengan para koruptor yang masih melenggang bebas? Bagaimana dengan mereka yang telah ditangkap tapi kemudian dilepaskan karena "kurang bukti" atau surat sakti? Dan bagaimana -bagaimana lainnya...
Dalam pikiran saya dan dengan pengetahuan saya tentang hukum yang sangat minim, saya mulai bertanya-tanya, sejauh mana hukum kita beserta para aparatnya dapat bertindak? Apakah mereka dpt dikatakan bersih dan tidak dapat disuap?
Apa sih sebenarnya korupsi itu?
Apakah hanya mengambil uang negara?
Bagaimana halnya dengan suap menyuap dengan segala bentuknya?
Apakah itu termasuk korupsi? Bagaimana halnya dengan korupsi waktu? Apakah tidak sama? Bagaimana pula dengan menyalah gunakan wewenang?
Bagaimana dengan sikap para anggota dewan kita yang utk menggolkan suatu proyek butuh uang sekian milyar?
Bagaimana dengan study banding di dalam maupun luar negeri yang memakan dana banyak? Padahal hasilnyapun belum ada atau bahkan tidak pernah direalisasikan atau belum tentu bisa diterapkan?
Yang sangat penting sebenarnya adalah kesadaran dari kita sendiri untuk melakukannya. Apapun bentuknya, yang namanya korupsi baik waktu, uang maupun penyalahgunaan wewenang adalah hal2 yang tidak baik.
Mari kita mulai dari diri sendiri.Karena selama diri sendiri tidak sadar, akan sulit utk memberantas korupsi.
Mari kita syukuri apapun yang kita terima saat ini dan jika ingin lebih lagi mari kerja lebih keras.
Mari kita benahi etos kerja kita dan cara kita pandang kita terhadap kesuksesan.
Sukses tidak diukur dari materi saja tapi dari segala hal.
Dengan merubah itu, saya yakin, korupsi akan hilang dengan mudah.
Cara yang sangat mudah adalah: apakah kita ingin mendapat malu? Apakah kita ingin anak cucu kita menanggung malu seumur hidup atas hal2 yg tidak dilakukannya? Apakah kita rela merampas nasi org miskin?Jika kita adalah mereka, bagaimana perasaan kita?
Sby 20 okt 2007
Selasa, Oktober 23, 2007
Mengampuni
Lebaran beberapa saat yg lalu, menorehkan suatu arti yg berbeda.
Jika biasanya sibuk dengan jalan2, kali ini nuansanya berbeda. Berkutet dengan kerjaan RT, kerjaan organisasi dan sekaligus bersosialisasi dengan teman2. Rasanya hampir tidak seperti liburan panjang (selain fakta bahwa tidak ada asisten yg membantu di rumah).
Nah saat sendiri dirumah dan mau tidur, terlintas dipikiran kenapa ya orang-orang kok rela berdesak-desakan untuk sekedar mudik! Selidik punya selidik ternyata yg diutamakan adalah sungkem ke orang tua, saudara dll. Mumpung bisa bertemu dan tidak perlu keliling.
Minal Aidin walfaidzin, mohon maaf lahir dan batin
Selanjutnya, saat merenung tadi, aku mulai berfikir lagi apakah memaafkan memiliki arti yg sama dengan mengampuni??
Menurut aku sih hampir sama, hanya kalo mengampuni memiliki makna yg lebih dalam lagi. Mengampuni lebih dari memaafkan. Mengampuni memiliki rasa penyesalan yg sangat mendalam dan dengan hati yg sangat tulus dan ada rasa tidak mau mengulang lagi.
Kemudian aku mulai merenungkan kembali salah satu ajaran dari agama yg aku anut selama ini, dimana kita harus bisa mengampuni orang lain sebelum kita meminta ampun padaNYA. Juga dalam peristiwa di kayu salib dimana Tuhan Jesus mengampuni orang-orang yg telah menyiksa dia, yg berbuat jahat padanya, yg berdosa, yg bersalah dll.
Saat merenung ini, aku kemudian terpikir bahwa hakekat kasih yg sesungguhnya adalah ketulusan dan kemampuan kita mengampuni org2 yg bersalah pd kita. Tidak peduli seberapa jahatnya dia, seberapa salahnya dia dan seberapa bencinya kita padanya, kita harus bisa mengampuni mereka.
Namun, apa yg terjadi selama ini adalah kita cenderung membenci dan mendendam jika kita dikhianati dan dilecehkan. Rasa dendam dan sakit hati ini bisa berlangsung lama dan bahkan bisa hingga akhir hayat dikandung badan.
Pertanyaannya adalah: bisakah kita benar2 mengampuni dan bisa melupakannya?
Jika hanya sekedar mengampuni, itu mudah dilakukan, tapi benar2 melakukan pengampunan dan bisa menerima kembali org tsb itu yg sangat sulit.
Terus gimana dong? Saat merenung, aku mulai berfikir, kenapa kita mudah memaafkan dan bahkan bisa melupakan org2 yg meyakiti kita saat org tersebut kita cintai. Ternyata, saat kita mencintai seseorg, kita memiliki kasih sayang yg tulus, memiliki hati yg bersih, sifat pemaaf (apa krn ada cinta?), dan adanya kebahagiaan. Akan tetapi saat kita marah dan membenci seseorang, hati kita kehilangan rasa cinta, rasa memaafkan, hati yg dipenuhi dendam dan kemarahan yg berkobar-kobar dll. Rasanya jika memungkinkan ingin rasanya org tersebut diulek-ulek atau di goreng. (kejamm niannnn)
Karena itulah aku mulai menyimpulkan bahwa jika ingin bisa mengampuni, kita harus memiliki hati yg bersih, ketulusan hati, kasih sayang. Krn itu mari kita bersihkan diri dan hati kita serta jauhkan diri dari sifat mendendam. Hanya kasih yg tulus yg mampukan kita utk memiliki hati yg rela mengampuni.
Kata pepatah tidak ada gading yg tak retak, tak ada berlian yg sempurna, tdk ada mutiara dikantung dan tdk ada kesempurnaan didunia ini. Mari kita saling mengampuni. Alangkah indahnya jika semua hidup dalam damai dan pengampunan. Tidak ada perang, tidak ada kebencian dan tdk ada kerusuhan. Semuanya indah.
Jika biasanya sibuk dengan jalan2, kali ini nuansanya berbeda. Berkutet dengan kerjaan RT, kerjaan organisasi dan sekaligus bersosialisasi dengan teman2. Rasanya hampir tidak seperti liburan panjang (selain fakta bahwa tidak ada asisten yg membantu di rumah).
Nah saat sendiri dirumah dan mau tidur, terlintas dipikiran kenapa ya orang-orang kok rela berdesak-desakan untuk sekedar mudik! Selidik punya selidik ternyata yg diutamakan adalah sungkem ke orang tua, saudara dll. Mumpung bisa bertemu dan tidak perlu keliling.
Minal Aidin walfaidzin, mohon maaf lahir dan batin
Selanjutnya, saat merenung tadi, aku mulai berfikir lagi apakah memaafkan memiliki arti yg sama dengan mengampuni??
Menurut aku sih hampir sama, hanya kalo mengampuni memiliki makna yg lebih dalam lagi. Mengampuni lebih dari memaafkan. Mengampuni memiliki rasa penyesalan yg sangat mendalam dan dengan hati yg sangat tulus dan ada rasa tidak mau mengulang lagi.
Kemudian aku mulai merenungkan kembali salah satu ajaran dari agama yg aku anut selama ini, dimana kita harus bisa mengampuni orang lain sebelum kita meminta ampun padaNYA. Juga dalam peristiwa di kayu salib dimana Tuhan Jesus mengampuni orang-orang yg telah menyiksa dia, yg berbuat jahat padanya, yg berdosa, yg bersalah dll.
Saat merenung ini, aku kemudian terpikir bahwa hakekat kasih yg sesungguhnya adalah ketulusan dan kemampuan kita mengampuni org2 yg bersalah pd kita. Tidak peduli seberapa jahatnya dia, seberapa salahnya dia dan seberapa bencinya kita padanya, kita harus bisa mengampuni mereka.
Namun, apa yg terjadi selama ini adalah kita cenderung membenci dan mendendam jika kita dikhianati dan dilecehkan. Rasa dendam dan sakit hati ini bisa berlangsung lama dan bahkan bisa hingga akhir hayat dikandung badan.
Pertanyaannya adalah: bisakah kita benar2 mengampuni dan bisa melupakannya?
Jika hanya sekedar mengampuni, itu mudah dilakukan, tapi benar2 melakukan pengampunan dan bisa menerima kembali org tsb itu yg sangat sulit.
Terus gimana dong? Saat merenung, aku mulai berfikir, kenapa kita mudah memaafkan dan bahkan bisa melupakan org2 yg meyakiti kita saat org tersebut kita cintai. Ternyata, saat kita mencintai seseorg, kita memiliki kasih sayang yg tulus, memiliki hati yg bersih, sifat pemaaf (apa krn ada cinta?), dan adanya kebahagiaan. Akan tetapi saat kita marah dan membenci seseorang, hati kita kehilangan rasa cinta, rasa memaafkan, hati yg dipenuhi dendam dan kemarahan yg berkobar-kobar dll. Rasanya jika memungkinkan ingin rasanya org tersebut diulek-ulek atau di goreng. (kejamm niannnn)
Karena itulah aku mulai menyimpulkan bahwa jika ingin bisa mengampuni, kita harus memiliki hati yg bersih, ketulusan hati, kasih sayang. Krn itu mari kita bersihkan diri dan hati kita serta jauhkan diri dari sifat mendendam. Hanya kasih yg tulus yg mampukan kita utk memiliki hati yg rela mengampuni.
Kata pepatah tidak ada gading yg tak retak, tak ada berlian yg sempurna, tdk ada mutiara dikantung dan tdk ada kesempurnaan didunia ini. Mari kita saling mengampuni. Alangkah indahnya jika semua hidup dalam damai dan pengampunan. Tidak ada perang, tidak ada kebencian dan tdk ada kerusuhan. Semuanya indah.
Selasa, September 11, 2007
Surabayaku..
Beberapa hari yg lalu, aku bersama rekan-rekan mengunjungi beberapa bangunan kuno yg ada dikotaku tercinta, Surabaya.
Sebelum Hari H, saya sempat membeli buku Soerabaia Tempo Doeloe karya Dhukut Imam.
Disana tertera sejarah kota ini, bangunan2 yg ada maupun yg pernah ada, mata uang yg dipakai, dll. Lengkap deh (cuma belum semua kubaca).
Yang aku baca hanya bab yg mengenai tempat2 yg akan dikunjungi (sebagai referensi) dan sekaligus sebagai pegangan, in case, ada peserta lain yg tanya.
Kesan yg paling membekas adalah: hati ini rasanya miris melihat bangunan2 kuno yg kurang terawat. Lebih miris lagi, ada banyak bangunan yg sangat bersejarah tapi sudah hilang.
Misalnya bangunan yg ada di Jln Pahlawan. Dulunya ada tapi sekarang sdh tdk ada lagi karena digantikan oleh Tugu Pahlawan. Kemudian hotel Sarkies, sudah berubah menjadi hotel Sheraton dll.
Saat melihat beberapa bangunan yg masih berdiri dan terawat, saya sangat menghargai pemiliknya dan niatnya untuk tidak mengubah bangunan tersebut maupun merobohkannya dan menjadikannya Mal seperti yg akan dilakukan pada bekas RS Mardi santoso yg konon akan dirobohkan dan dijadikan Mal. sangat disayangkan jika bangunan tersebuit berubah dan tdk ada lagi sisa2 sejarah kota ini.
Apakah usia kota Surabaya yg sudah 714 tahun ini, tidak memiliki sejarah yg panjang?
Jika semua bangunan lama beralih fungsi menjadi bangunan modern apakah bisa dipercaya jika usia kota ini sdh 700 tahun?
Bukannya baru 10 tahun???
Lihat saja bangunan2 yg ada dikota ini yg amburadul dan kesannya tidak tertata dengan rapi.
Jika dibandingkan dng di luar negeri, ada perbedaan yg jelas antara kota lama dengan kota baru.
Dikawasan kota lama, bentuk asli dan budaya setempat tetap dipertahankan. Kalaupun diperbaiki, hanyalah beberapa bagian saja tanpa mengurangi kemegahan jaman dahulu. Paling2 hanya renovasi bagian yg sdh rusak. itupun tanpa mengubah bentuk bangunan yg ada.
Akan tetapi di kawasan kota lama di Surabaya, ada bangunan yg rasanya kurang cocok dan tidak pada tempatnya yaitu adanya bangunan Jembatan Merah Plaza yg berdiri dng megah diantara bangunan2 kuno.
Akan tetapi saya salut dengan keberadaan hotel Ibis yg tetap mempertahankan bentuk depannya. Bangunan tambahan berada di belakang (kalo tidak salah) menempati bekas gudang.
Saya sangat salut dengan bangunan PTN XI yg tetap merawat bangunannya. Bahkan menambah bangunan disayap kiri dan kanan dengan bangunan baru yg sama persis dengan bangunan lama. Jika tidak ada keretakan maupun sedikit perbedaan, tdk akan diketahui jika bangunan itu adalah bangunan baru yg dibangun oleh arsitek Indonesia.
Sekarang ini terlihat dengan jelas perbedaannya dimana bangunan lama masih kokoh dan tegak berdiri sedangna bangunan baru kelihatan agak rapuh. Timbul pertanyaan mana yg lebih kuno???
Jika bangunan lama didirikan tahun 1915, bangunan baru tahun 1985. Tapi sdh kelihatan jika yg baru tdk sekokoh yg lama.
Karena saya bukan insinyur bangunan, saya tdk bisa mengomentari lebih jauh ttg kualitas dr bangunan itu sendiri.
Untunglah walikota surabaya sudah sadar dan mulai mengadakan pembenahan tata kota.
Dan membuat SK tentang cagar budaya. Seandainya sejak dahulu sudah dilakukan, maka bangunan bersejarah tdk berubah fungsi menjadi mal. Sangat riskan bukan???
Baru2 ini, ada bangunan bekas penjara yg dijebol. Tapi berkat kesigapan masyarakat dan adanya niat baik dari Pemkot, maka yg sdh dirobohkan itu dibangun kembali. Salut buat masyakarat dan Pemkot yg mau membenahi.
Sebelum Hari H, saya sempat membeli buku Soerabaia Tempo Doeloe karya Dhukut Imam.
Disana tertera sejarah kota ini, bangunan2 yg ada maupun yg pernah ada, mata uang yg dipakai, dll. Lengkap deh (cuma belum semua kubaca).
Yang aku baca hanya bab yg mengenai tempat2 yg akan dikunjungi (sebagai referensi) dan sekaligus sebagai pegangan, in case, ada peserta lain yg tanya.
Kesan yg paling membekas adalah: hati ini rasanya miris melihat bangunan2 kuno yg kurang terawat. Lebih miris lagi, ada banyak bangunan yg sangat bersejarah tapi sudah hilang.
Misalnya bangunan yg ada di Jln Pahlawan. Dulunya ada tapi sekarang sdh tdk ada lagi karena digantikan oleh Tugu Pahlawan. Kemudian hotel Sarkies, sudah berubah menjadi hotel Sheraton dll.
Saat melihat beberapa bangunan yg masih berdiri dan terawat, saya sangat menghargai pemiliknya dan niatnya untuk tidak mengubah bangunan tersebut maupun merobohkannya dan menjadikannya Mal seperti yg akan dilakukan pada bekas RS Mardi santoso yg konon akan dirobohkan dan dijadikan Mal. sangat disayangkan jika bangunan tersebuit berubah dan tdk ada lagi sisa2 sejarah kota ini.
Apakah usia kota Surabaya yg sudah 714 tahun ini, tidak memiliki sejarah yg panjang?
Jika semua bangunan lama beralih fungsi menjadi bangunan modern apakah bisa dipercaya jika usia kota ini sdh 700 tahun?
Bukannya baru 10 tahun???
Lihat saja bangunan2 yg ada dikota ini yg amburadul dan kesannya tidak tertata dengan rapi.
Jika dibandingkan dng di luar negeri, ada perbedaan yg jelas antara kota lama dengan kota baru.
Dikawasan kota lama, bentuk asli dan budaya setempat tetap dipertahankan. Kalaupun diperbaiki, hanyalah beberapa bagian saja tanpa mengurangi kemegahan jaman dahulu. Paling2 hanya renovasi bagian yg sdh rusak. itupun tanpa mengubah bentuk bangunan yg ada.
Akan tetapi di kawasan kota lama di Surabaya, ada bangunan yg rasanya kurang cocok dan tidak pada tempatnya yaitu adanya bangunan Jembatan Merah Plaza yg berdiri dng megah diantara bangunan2 kuno.
Akan tetapi saya salut dengan keberadaan hotel Ibis yg tetap mempertahankan bentuk depannya. Bangunan tambahan berada di belakang (kalo tidak salah) menempati bekas gudang.
Saya sangat salut dengan bangunan PTN XI yg tetap merawat bangunannya. Bahkan menambah bangunan disayap kiri dan kanan dengan bangunan baru yg sama persis dengan bangunan lama. Jika tidak ada keretakan maupun sedikit perbedaan, tdk akan diketahui jika bangunan itu adalah bangunan baru yg dibangun oleh arsitek Indonesia.
Sekarang ini terlihat dengan jelas perbedaannya dimana bangunan lama masih kokoh dan tegak berdiri sedangna bangunan baru kelihatan agak rapuh. Timbul pertanyaan mana yg lebih kuno???
Jika bangunan lama didirikan tahun 1915, bangunan baru tahun 1985. Tapi sdh kelihatan jika yg baru tdk sekokoh yg lama.
Karena saya bukan insinyur bangunan, saya tdk bisa mengomentari lebih jauh ttg kualitas dr bangunan itu sendiri.
Untunglah walikota surabaya sudah sadar dan mulai mengadakan pembenahan tata kota.
Dan membuat SK tentang cagar budaya. Seandainya sejak dahulu sudah dilakukan, maka bangunan bersejarah tdk berubah fungsi menjadi mal. Sangat riskan bukan???
Baru2 ini, ada bangunan bekas penjara yg dijebol. Tapi berkat kesigapan masyarakat dan adanya niat baik dari Pemkot, maka yg sdh dirobohkan itu dibangun kembali. Salut buat masyakarat dan Pemkot yg mau membenahi.
Senin, Agustus 20, 2007
MERDEKA
Merdeka!
Sudahkah kita benar2 merdeka??
Eitsss... merdeka dari apa dulu?
Jika merdeka dari penjajah, jawabannya SUDAH
Jika merdeka dari diskriminasi, jawabnya BELUM
Jika merdeka dari kemiskinan, jawabnya BELUM
Jika merdeka dari KKN, jawabnya BELUM
Jika merdeka dari kebodohan, jawabnya BELUM
Jika merdeka dari kekerasan, jawabnya BELUM SEMUA
Jika merdeka dari sakit penyakit, JANGAN dong...
Jadi gimana dong...
Menurut pendapatku, banyak hal yg masih belum benar2 merdeka (dalam arti bukan merdeka dari jaman penjajah lho).
Apa sih sebenarnya merdeka itu???
Menurut aku sih, merdeka itu bebas dari hal-hal yg membuat kita menderita baik jasmani maupun rohani.
Merdeka dari segala bentuk penderitaan
Merdeka dari segala bentuk penindasan
Merdeka dari segala bentuk kekerasan (fisik maupun mental)
Merdeka dari segala bentuk diskriminasi (etnis maupun agama)
Merdeka dari segala bentuk kecurangan
Merdeka dari segala bentuk KKN
Merdeka dari segala bentuk kemiskinan
dll
termasuk sakit penyakit...
ooppsss...
kalo termasuk sakit penyakit namanya sdh game over alias pindah ke dunia lain.
Tapi yg aku lihat dan dengar sekarang ini, masih ada hal-hal yg belum sepenuhnya merdeka.
Misalnya diskriminasi.
Walaupun UU Kewarganegaraan sdh di jedhog alias sudah di sahkan pemerintah, namun pada prakteknya masih aja diskriminasi yg dialami oleh kelompok etnis tertentu. Masalah pembuatan KTP misalnya, masih ada yg dipersulit. Begitu pula dlm penulisan nama. Masih ada praktek2 UU jaman dulu yg dipakai.
Kapankah akan bebas dr diskriminasi???
Entahlah...
Dilain pihak, misalnya merdeka dari kekerasan. Masih saja ada kaum wanita dan anak2 yg mengalami kekerasan dalam Rumah Tangga. Tidak sedikit yg dipukul maupun disiksa oleh suami/ortu. Malah ada anak gadis yg diperkosa oleh sang bapak kandung.
walaupun ada payung hukum dlm kekeratan dlm RT, namun sedikit yg melaporkannya. Kenapa??? karena takut dan tdk tahu hrs mengadu pd siapa.
Akankah terjadi terus menerus???
Kemiskinan. kata ini sangat sangat kritis. Kenapa???
karena sekarang ini jumlah penduduk yg miskin semakin bertambah. Ekonomi yg blm sepenuhnya pulih, banyaknya pengangguran, sedikitnya lapangan pekerjaan, naiknya harga2 dll menyebabkan kemiskinan meningkat.
Apa dong yg hrs kita lakukan? berdiam diri saja?
Tergantung dr hati nurani kita masing2.
Kalo menurut aku sih, mari kita mulai dari hal2 yg bisa kita lakukan.
Kita mulai saja dari lingkungan keluarga dng cara STOP kekerasan dalam bentuk apapun, jangan diskriminatif (terhadap semua org dlm lingkungan kita baik dari status sosial, jenis kelamin, agama maupun etnis) dengan cara menjaga sikap, perkataan dan perbuatan.
Mencoba membantu org2 yg membutuhkan pertolongan disekitar kita dengan cara memberikan atau membantu apa yg dpt kita bantu / berikan misalnya dng cara membantu pemberian bea siswa utk anak2 yg kurang mampu, anak asuh dll.
Atau jika kita tdk memiliki materi utk diberikan, kita bisa membantu dlm nasihat, membantu anak2 dlm belajar, membantu dlm kegiatan2 yg diselenggarakan oleh RT/RW atau organisasi sosial atau dlm lingkungan dimana kita beribadah dll atau dalam doa ;-)
SEmua bantuan ada artinya. Dan tak perlu menunggu tua atau kaya.
Apapun bantuan kita, akan sangat berarti buat yg membutuhkan.
Surabaya, 20 Agustus 2007
Sudahkah kita benar2 merdeka??
Eitsss... merdeka dari apa dulu?
Jika merdeka dari penjajah, jawabannya SUDAH
Jika merdeka dari diskriminasi, jawabnya BELUM
Jika merdeka dari kemiskinan, jawabnya BELUM
Jika merdeka dari KKN, jawabnya BELUM
Jika merdeka dari kebodohan, jawabnya BELUM
Jika merdeka dari kekerasan, jawabnya BELUM SEMUA
Jika merdeka dari sakit penyakit, JANGAN dong...
Jadi gimana dong...
Menurut pendapatku, banyak hal yg masih belum benar2 merdeka (dalam arti bukan merdeka dari jaman penjajah lho).
Apa sih sebenarnya merdeka itu???
Menurut aku sih, merdeka itu bebas dari hal-hal yg membuat kita menderita baik jasmani maupun rohani.
Merdeka dari segala bentuk penderitaan
Merdeka dari segala bentuk penindasan
Merdeka dari segala bentuk kekerasan (fisik maupun mental)
Merdeka dari segala bentuk diskriminasi (etnis maupun agama)
Merdeka dari segala bentuk kecurangan
Merdeka dari segala bentuk KKN
Merdeka dari segala bentuk kemiskinan
dll
termasuk sakit penyakit...
ooppsss...
kalo termasuk sakit penyakit namanya sdh game over alias pindah ke dunia lain.
Tapi yg aku lihat dan dengar sekarang ini, masih ada hal-hal yg belum sepenuhnya merdeka.
Misalnya diskriminasi.
Walaupun UU Kewarganegaraan sdh di jedhog alias sudah di sahkan pemerintah, namun pada prakteknya masih aja diskriminasi yg dialami oleh kelompok etnis tertentu. Masalah pembuatan KTP misalnya, masih ada yg dipersulit. Begitu pula dlm penulisan nama. Masih ada praktek2 UU jaman dulu yg dipakai.
Kapankah akan bebas dr diskriminasi???
Entahlah...
Dilain pihak, misalnya merdeka dari kekerasan. Masih saja ada kaum wanita dan anak2 yg mengalami kekerasan dalam Rumah Tangga. Tidak sedikit yg dipukul maupun disiksa oleh suami/ortu. Malah ada anak gadis yg diperkosa oleh sang bapak kandung.
walaupun ada payung hukum dlm kekeratan dlm RT, namun sedikit yg melaporkannya. Kenapa??? karena takut dan tdk tahu hrs mengadu pd siapa.
Akankah terjadi terus menerus???
Kemiskinan. kata ini sangat sangat kritis. Kenapa???
karena sekarang ini jumlah penduduk yg miskin semakin bertambah. Ekonomi yg blm sepenuhnya pulih, banyaknya pengangguran, sedikitnya lapangan pekerjaan, naiknya harga2 dll menyebabkan kemiskinan meningkat.
Apa dong yg hrs kita lakukan? berdiam diri saja?
Tergantung dr hati nurani kita masing2.
Kalo menurut aku sih, mari kita mulai dari hal2 yg bisa kita lakukan.
Kita mulai saja dari lingkungan keluarga dng cara STOP kekerasan dalam bentuk apapun, jangan diskriminatif (terhadap semua org dlm lingkungan kita baik dari status sosial, jenis kelamin, agama maupun etnis) dengan cara menjaga sikap, perkataan dan perbuatan.
Mencoba membantu org2 yg membutuhkan pertolongan disekitar kita dengan cara memberikan atau membantu apa yg dpt kita bantu / berikan misalnya dng cara membantu pemberian bea siswa utk anak2 yg kurang mampu, anak asuh dll.
Atau jika kita tdk memiliki materi utk diberikan, kita bisa membantu dlm nasihat, membantu anak2 dlm belajar, membantu dlm kegiatan2 yg diselenggarakan oleh RT/RW atau organisasi sosial atau dlm lingkungan dimana kita beribadah dll atau dalam doa ;-)
SEmua bantuan ada artinya. Dan tak perlu menunggu tua atau kaya.
Apapun bantuan kita, akan sangat berarti buat yg membutuhkan.
Surabaya, 20 Agustus 2007
Dirgahayu Indonesiaku
MERDEKA! MERDEKA!
Pekik ini selalu ada dalam tiap perayaan HUT negara kita tercinta ini.
Ya, kemarin adalah HUT negara kita tercinta yg ke 62 tahun.
Untuk usia manusia bisa dikatakan sdh cukup matang dan banyak makan asam garam.
Banyak pengalaman, banyak hal yg telah dilakukan dan semakin dewasa.
Beberapa hari yg lalu, aku membaca dalam surat kabar harian yg memetik pidato Presiden RI yg pertama yaitu Soekarno dalam pidatonya di Surabaya pada tanggal 24 Sept 1955 yg berbunyi:
Negara RI ini bukan milik sesuatu golongan
bukan milik sesuatu agama
bukan milik sesuatu suku
bukan milik golongan adat istiadat
TETAPI: milik kita semua dari Sabang sampai Merauke.
Pidato ini sangat selaras dengan salah satu lagu kita:
Dari Sabang sampai Merauke berjajar pulau-pulau
Sambung menyambung menjadi satu, Itulah Indonesia
Indonesia Tanah airku, aku berjanji padamu
Menjunjung tanah airku..
Tanah airku Indonesia.
(catatan: lagu ini aku singkat saja)
Pidato itu sangat menyentuh hati saya dan membuat saya berpikir, apakah Bung Karno ini bisa meramalkan masa depan atau apa gitu. Karena pidato itu mengingatkan kita untuk tetap bersatu karena negara ini adalah milik kita semua. Milik kita Warga Negara Indonesia. Tidak peduli dari suku maupun dari agama apapun.
Dari peristiwa yg terjadi beberapa tahun ini, ada beberapa daerah yg ingin melepaskan kita dari pelukan Ibu Pertiwi.
Kita runtut dari awal, Timor Timur telah lepas dari pangkuan Ibu Pertiwi beberapa tahun yg lalu. Kemudian Aceh meminta merdeka. Dan Sekarang yg masih ramai adalah Papua yg juga ingin Merdeka.
Jika semua wilayah ingin merdeka, bagaimana nasib negara ini?
Bagaimana dengan pengaturan negara ini?
Bagaimana dengan nasib bangsa ini?
Dari sisi wilayah, sudah bukan dari Sabang sampai merauke lagi.
Dari lagu, tidak ada lagi lagu dari Sabang sampai merauke
Banyak hal yg akan terjadi jika ada lagi wilayah yang terlepas dr NKRI.
Tetapi...
Sejauh mana, kita semua menganggap bahwa negara kita tercinta ini adalah milik kita semua?
Sejauh mana kita berpatok bahwa kita semua mencintai negara ini dan bahu membahu membangun bangsa dan negara ini?
Sejauh mana kita bersedia menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan, tanpa melihat suku, agama dan ras?
Sejauh mana kita menghormati perbedaan yg ada akibat dari beragamnya suku, agama dan ras yang ada di Ibu Pertiwi ini?
Sejauh mana kita berbakti pada nusa dan bangsa?
Yah.. sejauh mana yg telah kulakukan?
Sudah cukupkah??
Sudah puaskah??
TIDAK!
Masih banyak yg ingin kulakukan.
Masih banyak yg belum kuwujudkan
Masih banyak cita2 yg ingin kuraih untuk Indonesiaku.
Indonesiaku, tanah airku
Indonesiaku, tanah tumpah darahku
Indonesiaku, disinilah aku berbakti dan mengabdi
Indonesiaku, disinilah aku lahir dan dibesarkan
Indonesiaku, disinilah aku dididik dan bekerja
Indonesiaku, aku mencintaimu
Jayalah Indonesiaku.
Surabaya, 20 Agustus 2007
Pekik ini selalu ada dalam tiap perayaan HUT negara kita tercinta ini.
Ya, kemarin adalah HUT negara kita tercinta yg ke 62 tahun.
Untuk usia manusia bisa dikatakan sdh cukup matang dan banyak makan asam garam.
Banyak pengalaman, banyak hal yg telah dilakukan dan semakin dewasa.
Beberapa hari yg lalu, aku membaca dalam surat kabar harian yg memetik pidato Presiden RI yg pertama yaitu Soekarno dalam pidatonya di Surabaya pada tanggal 24 Sept 1955 yg berbunyi:
Negara RI ini bukan milik sesuatu golongan
bukan milik sesuatu agama
bukan milik sesuatu suku
bukan milik golongan adat istiadat
TETAPI: milik kita semua dari Sabang sampai Merauke.
Pidato ini sangat selaras dengan salah satu lagu kita:
Dari Sabang sampai Merauke berjajar pulau-pulau
Sambung menyambung menjadi satu, Itulah Indonesia
Indonesia Tanah airku, aku berjanji padamu
Menjunjung tanah airku..
Tanah airku Indonesia.
(catatan: lagu ini aku singkat saja)
Pidato itu sangat menyentuh hati saya dan membuat saya berpikir, apakah Bung Karno ini bisa meramalkan masa depan atau apa gitu. Karena pidato itu mengingatkan kita untuk tetap bersatu karena negara ini adalah milik kita semua. Milik kita Warga Negara Indonesia. Tidak peduli dari suku maupun dari agama apapun.
Dari peristiwa yg terjadi beberapa tahun ini, ada beberapa daerah yg ingin melepaskan kita dari pelukan Ibu Pertiwi.
Kita runtut dari awal, Timor Timur telah lepas dari pangkuan Ibu Pertiwi beberapa tahun yg lalu. Kemudian Aceh meminta merdeka. Dan Sekarang yg masih ramai adalah Papua yg juga ingin Merdeka.
Jika semua wilayah ingin merdeka, bagaimana nasib negara ini?
Bagaimana dengan pengaturan negara ini?
Bagaimana dengan nasib bangsa ini?
Dari sisi wilayah, sudah bukan dari Sabang sampai merauke lagi.
Dari lagu, tidak ada lagi lagu dari Sabang sampai merauke
Banyak hal yg akan terjadi jika ada lagi wilayah yang terlepas dr NKRI.
Tetapi...
Sejauh mana, kita semua menganggap bahwa negara kita tercinta ini adalah milik kita semua?
Sejauh mana kita berpatok bahwa kita semua mencintai negara ini dan bahu membahu membangun bangsa dan negara ini?
Sejauh mana kita bersedia menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan, tanpa melihat suku, agama dan ras?
Sejauh mana kita menghormati perbedaan yg ada akibat dari beragamnya suku, agama dan ras yang ada di Ibu Pertiwi ini?
Sejauh mana kita berbakti pada nusa dan bangsa?
Yah.. sejauh mana yg telah kulakukan?
Sudah cukupkah??
Sudah puaskah??
TIDAK!
Masih banyak yg ingin kulakukan.
Masih banyak yg belum kuwujudkan
Masih banyak cita2 yg ingin kuraih untuk Indonesiaku.
Indonesiaku, tanah airku
Indonesiaku, tanah tumpah darahku
Indonesiaku, disinilah aku berbakti dan mengabdi
Indonesiaku, disinilah aku lahir dan dibesarkan
Indonesiaku, disinilah aku dididik dan bekerja
Indonesiaku, aku mencintaimu
Jayalah Indonesiaku.
Surabaya, 20 Agustus 2007
Langganan:
Postingan (Atom)