Hutang versus tabungan.... kok???
Iya sih, kali ini aku pengen sharing tentang hutang dan tabungan. Karena antara hutang dan menabung ada jurang yang lebar ;-) dan keduanya adalah dua sisi mata uang yang berbeda.
Kalo banyak hutang isa gak menabung???
Kalo tidak ada hutang tandanya gak dipercaya ama bank dong? (he..he...)
Memang sih, kepercayaan adalah syarat utama dalam pelepasan kredit. Tanpa kepercayaan, akan sulit bagi kita untuk mendapatkan hutang. Semakin bagus kepercayaan pihak bank pada kita maka semakin besar pula hutang yang bisa kita peroleh.
Bagaimana dengan menabung? Semakin banyak uang yang kita simpan di bank, semakin naiklah status kita di mata bank. Mulai dari perlakuan yang istimewa (bagi nasabah priority, disediakan lounge khusus untuk bertransaksi tanpa harus antri) hingga penawaran untuk membantu mengelola tabungan kita (dikenal dengan istilah wealth management). Pada akhirnya semakin banyak kans bagi kita untuk menjadikan uang sebagai aset yang bekerja untuk kita misalnya kita investasikan di surat berharga, emas, ataupun deposito.
Nah,kita tinggal pilih mau jadi debitur (penghutang) ataukah kreditur (deposan). Atau keduanya. Ya debitur sekaligus kreditur. Cuma jika mau keduanya, kita harus mempertimbangan spread suku bunga keduanya. Biasanya suku bunga pinjaman lebih besar dari deposito. Tapi jika dapat bunga pinjaman 0%, lain lagi ceritanya ;-). Namun demikian tetap harus diwaspadai karena bunga 0% itu biasanya bekerja sama dengan outlet tertentu untuk barang konsumtif. Bukan uang dalam arti yg sesungguhnya.
Saya amati akhir-akhir ini banyak penawaran kredit yang ajubilahhh gampang sekali mendapatkannya. Cukup gesek kartu kredit (bagi yg memiliki) dan minta pada bank untuk dicicil sebanyak yg kita mampu atau bahkan bayar sebesar saldo minimum saja yaitu 10% dari total tagihan. Bunga??? wow... jangan ditanya deh. Bunganya ajubilahhh gede banget dan dihitung dari tanggal kita transaksi lho. Bukan tanggal jatuh tempo tagihan. Juga, kalo kita belum melunasi total tagihan, bunga tetap dihitung dari tanggal transaksi. So, kebayangkan mahalnya. Bunganyapun sekitar 2,75 s/d 4% perbulan tidak termasuk late charges.
Dari beberapa surat pembaca di koran2, banyak yang mengeluhkan tagihan membengkak berkali-kali lipat akibat bunga dari kartu kredit.
Diluar itu, bankpun berlomba-lomba memanjakan customernya dengan fasilitas membeli dengan cara dicicil. Bahkan ada yang dicicil dengan 0%. Iya 0%. Tampaknya murah ya, tapi kalo kita tidak berhati-hati dan bijak mengelola keuangan kita, kita bisa terjerat dalam hutang kartu kredit. Mengapa??? Karena jika kita tetap membeli tanpa memperhitungkan kemampuan membayar, kita akan menunggak dan kita akhirnya cuma mampu membayar sebesar saldo minimum. Saat kita mulai menunggak, saat itulah kita menggali lubang kubur buat keuangan kita.
Terus gimana dong???
Menurut aku sih simple aja, kita kudu bisa memilah apakah barang itu adalah kebutuhan (need) ataukah keinginan (want). Jika kita memang membutuhkan barang tersebut dan tanpa barang itu kita tidak bisa apa2, maka itu namanya kebutuhan dan mau tidak mau atau suka tidak suka, kita harus membelinya. Ya belilah tapi dengan cara yg bijak. Misalnya beli dengan kualitas yang bagus dan sesuai dengan kemampuan kita. Akan tetapi jika hanya sebatas keinginan saja, sangat layak kita pertimbangan dan pikir dulu sejuta kali sebelum membelinya. Cara termudah adalah, pulang ke rumah dan pikirkan lagi apakah emmang dibutuhkan.
Misalnya, kulkas dirumah rusak. Kita tidak pernah masak ataupun menyimpan bahan yang banyak di kulkas dan hanya untuk menyimpan buah saja. Apakah bijak membelinya???
Menurut aku sih bisa ditunda dan kalaupun harus membelinya, beli yang bagus dengan ukuran yg sedang saja tidak perlu ukuran jumbo karena selain lebih mahal juga boros energi.
Akan tetapi jika kita memang sering masak dan harus menyimpan makanan di kulkas, maka kita layak membelinya dan sesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan kita.
Contoh lain, HP. Jika HP kita rusak dan kita membutuhkan untuk mobilitas kita, kita perlu membelinya. Tetapi jangan beli jika hanya untuk gengsi ataupun supaya tidak dikatakan ketinggalan jaman.
Itu salah satu kita untuk mengerem nafsu belanja kita.
Terus gimana dong dengan menabung???
Kan susah kalo liat duit udah banyak terus rasanya pengen menghabiskannya.
Gampang sih. Beberapa teman dan bahkan akupun melakoninya yaitu dengan ikut arisan. Tiap bulan kita harus setor arisan. Dan kita tidak dapat menghindarinya atau bilang bulan ini libur dulu. Kalo itu terjadi, bisa2 kita dimusuhi teman2 atau kerabat kita. Saat arisan kita piao (tarik), uangnya langsung kita depositokan. Jika tidak penting sekali, kita depositokan dengan jangka waktu selama mungkin. Karena semakin lama jangka waktu depositonya, bunganya semakin besar. Dana ini bisa kita gunakan untuk uang muka membeli rumah, mengganti perabot, uang pangkal anak sekolah, untuk traveling atau untuk tabungan masa tua.
Kalo untuk biaya pendidikan anak, kita bisa ikut tabungan pendidikan yang banyak diusung oleh bank-bank. Tiap bulan menyicil hingga usia anak masuk sekolah SD, SMP, SMA bahkan kuliah.
Simple bukan??
Dengan rajin menabung dan bijak dalam membelanjakan uang, niscaya kita tidak perlu sampai terjerat hutang.
Selasa, Agustus 12, 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar